- Robin Williams dalam film legendaris Mrs Doubtfire sama sekali tak menyiratkan kesedihan. Mata jenakanya terkenang sepanjang masa.Tak sedikit yang tahu keakraban Williams dengan alkohol dan obat-obatan. Namun, sekali lagi, itu tidak membuatnya berkubang dalam suasana muram. Tahun demi tahun, film Williams terus bermunculan.Saat 11 Agustus lalu ia ditemukan meninggal di California, seluruh pemerhati dunia hiburan terkejut. Apalagi ia diduga meninggal bunuh diri. Tubuhnya tergantung dan ada pisau di dekatnya.Penyebab bunuh dirinya langsung menyempit pada satu kata: depresi. Dugaan itu didasari ungkapan duka cita dari perwakilan Williams. “Dia berjuang melawan depresi yang berat akhir-akhir ini,” katanya.Fakta itu kemudian menguak riwayat lama Williams sebagai pecandu obat dan alkohol. Padahal, ia sudah berobat. Dalam wawancara tahun 2010 ia juga mengungkapkan hidupnya sudah lebih bahagia.Beberapa hari setelah kematiannya, muncul fakta baru. Istri Williams, Susan Schneider mengungkap, saat meninggal suaminya sebenarnya juga tengah berjuang melawan tahap awal penyakit parkinson.Menurut Dr Manny Alvarez, editor kesehatan untuk Fox News, parkinson bisa menjadi beban berat bagi psikologi penderitanya. Akan ada perubahan kimia dalam otak, yang bisa menyebabkan depresi.Jika mengalami parkinson dan depresi, kondisinya akan jauh lebih mengkhawatirkan. Konsentrasi menurun drastis, sering merasa cemas, apalagi saat sendirian. Itu bisa mengarah ke bunuh diri.
ANALISIS KASUS :
Dalam Chaplin (2002) depresi didefinisikan pada dua
keadaan, yaitu pada orang normal dan pada kasus patologis. Pada orang normal,
depresi merupakan keadaan kemurungan (kesedihan, patah semangat) yang ditandai
dengan perasaan tidak puas, menurunnya kegiatan, dan pesimis dalam menghadapi
masa yang akan datang. Pada kasus patologis, depresi merupakan ketidakmampuan
ekstrem untuk bereaksi terhadap perangsang, disertai menurunnya nilai diri,
delusi ketidakpastian, tidak mampu dan putus asa. Perbedaan depresi normal
dengan depresi klinis terletak pada tingkatannya, namun keduanya memiliki jenis
simtom yang sama. Tetapi depresi unipolar atau mayor depresi mempunyai simtom
yang lebih banyak, lebih berat (severely), lebih sering, dan terjadi dalam
waktu yang lebih lama. Namun batas antara gangguan depresif normal (‘normal’ dengan
gangguan depresif klinis (clinically significant depressive disorder) masih
kabur (Rosenhan & Seligman, 1989).
Radloff (1977) telah mengembangkan sebuah skala
CES-D untuk mendeteksi simtom-simtom depresi pada populasi umum. Komponen utama
simtomatologi depresif yang digunakan dalam skala CES-D diidentifikasi dari
literatur klinis dan studi faktor analisis. Melalui skala CES-D individu
dikatakan mengalami simtom-simtom depresi melalui keempat faktor, yaitu:
Depressed effect/negative affect merupakan perasaan-perasaan, emosi, atau
suasana hati yang dirasakan negatif seperti perasaan sedih, tertekan, kesepian,
dan menangis, Somatic symptoms merupakan gejala psikologis yang dirasakan
berkaitan dengan keadaan tubuh seperti merasa terganggu, berkurang atau
bertambahnya nafsu makan, membutuhkan usaha lebih besar dalam melakukan sesuatu,
kesulitan tidur, dan sulit memulai sesuatu, Positive affect merupakan perasaan,
emosi, suasana hati yang dirasakan positif bagi individu dan memiliki harapan
yang merupakan kebalikan dari perasaan negatif, dan Interpersonal relation
merupakan perasan negatif yang dirasakan individu berkaitan dengan perilaku
orang lain seperti tidak bersahabat dan merasa tidak disukai.
Berdasarkan berbagai definisi
dari faktor-faktor yang disebutkan di atas, maka dapat disimpulkan pengertian
depresi adalah suatu keadaan dimana individu mengalami simtom-simtom perasaan
sedih, tertekan, kesepian, berkurang nafsu makan, membutuhkan usaha lebih besar
dalam melakukan sesuatu, kesulitan tidur, kesulitan untuk memulai mengerjakan
sesuatu, merasa tidak bersahabat, dan merasa tidak disukai orang lain.
2. Keshatan mental yakni terhindarnya seseorang dari
gejala-gejala gangguan dan penyakit jiwa, dapat menyesuaikan diri, dapat
memanfaatkan segala potensi dan bakat yang ada semaksimal mungkin dan membawa
kepada kebahagiaan bersama serta mencapai keharmonisan jiwa dalam hidup. Kesehatan jiwa di Indonesia selama ini relatif terabaikan, padahal
penurunan produktivitas akibat gangguan kesehatan jiwa terbukti berdampak nyata
pada perekonomian. Di Indonesia, jumlah penderita masalah kesehatan jiwa
cukup tinggi dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Hampir seluruh bagian
dari wilayah Indonesia dan selama beberapa dekade, populasi telah mengalami
masa sulit karena konflik, kemiskinan ataupun bencana alam. Sejumlah besar
masyarakat Indonesia mengalami penderitaan mental yang bervariasi mulai dari
tekanan psikologis ringan hingga gangguan jiwa.meskipun gangguan jiwa tidak
menyebabkan kematian secara langsung namun akan menyebabkan penderinya
menjadi tidak produktif dan menimbulkan beban bagi keluarga penderita dan
lingkungan masyarakat sekitarnya. Sampai saat ini perhatian pemerintah terhadap
kesehatan jiwa di tanah air boleh dikatakan kurang memuaskan
NAMA : FIRMANSYAH
KELAS : 2PA13
NPM : 14514296
Tidak ada komentar:
Posting Komentar