NAMA : FIRMANSYAH
KELAS : 1 PA10
NPM :
14514296
MAKALAH PSIKOLOGI UMUM
POTENSI
BELAJAR ANAK DAN BERBAHASA PADA ANAK ANAK
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, tanpa kita sadari
baik langsung maupun tidak, dan merupakan hal yang tidak dapat kita hindari,
bahwa dalam kehidupan manusia di muka bumi ini tidak terlepas dari hubungan
antar makhluk hidup baik dengan makhluk hidup sejenis maupun dengan lingkungan
sekitar yang disebut dengan istilah interaksi.
Dengan demikian, dapat kita ketahui bahwa
manusia adalah makhluk yang selalu berinteraksi dengan lingkungan hidupnya baik
faktor biotik maupun faktor abiotik. Dengan kata lain manusia disebut dengan
makhluk sosial (zoon politicon). Dalam hubungan antar individu atau makhluk
hidup inilah, maka manusia membutuhkan media untuk untuk berkomunikasi antar
yang satu dengan yang lainnya, dan media yang paling efektif dalam proses
hubungan antar individu (interaksi) adalah Bahasa.
Dengan melihat pada pentingnya bahasa dalam
kehidupan sosial manusia, maka banyak para ilmuwan dan para ahli
menjadikan bahasa sebagai studi karena mereka memerlukan bahasa
sekurang-kurangnya sebagai alat bantu untuk mengomunikasikan berbagai hal dalam
kehidupan sosialnya. Karena tanpa bahasa, komunikasi tidak akan dapat dilakukan
dengan baik dan interaksi sosial pun tidak akan pernah terjadi. Siapapun tidak
akan dapat mengekspresikan diri untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain.
Maka berangkat dari pemikiran itulah penulis
tertarik untuk mengangkat judul “Perkembangan Bahasa Anak” dalam sebuah karya
ilmiah.
B. Perumusan
Masalah
1. Bagaimanakah proses perkembangan bahasa
anak bisa berlangsung ?
2. Apakah ada faktor-faktor tertentu yang
mampengaruhi perkembangan bahasa anak ?
C. Dasar Pemikiran
Bahasa sebagai alat yang sangat penting dan
diperlukan oleh manusia untuk menjalankan aktivitas hidupnya selaku makhluk
sosial yang memerlukan orang lain sebagai mitra berkomunikasi. Sehingga pada
dasarnya setiap anak memiliki potensi untuk berbahasa, yang mana potensi
kebahasaan itu akan tumbuh dan berkembang jika fungsi lingkungan diperankan
dengan baik.
Dengan demikin, jelas bahwa dalam proses
perkembangan bahasa lingkungan sekitar sangat berpengaruh, terutama lingkungan
keluarga yang dalam hal ini memiliki peranan yang sangat penting. Perolehan
bahasa, pertama kali akan terjadi ketika seorang anak mengenal bahasa di
lingkungan keluarga. Bahasa yang dikenal dan dikuasai oleh anak yang berasal
dari keluarga inilah yang merupakan titik awal perkembangan bahasa anak.
Selain lingkungan keluarga, perkembangan bahasa
anak ini terkait dengan perkembangan kognitif, yang berarti faktor intelek
sangat berpengaruh dalam proses perkembangan berbahasa. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa, perkembangan bahasa anak ialah meningkatnya kemampuan
penguasaan alat untuk berkomunikasi, baik secara lisan, tulisan, maupun dengan
tanda-tanda atau isyarat. Dengan kata lain penguasaan alat komunikasi di
sini di artikan sebagai upaya seseorang untuk dapat memahami dan dipahami oleh
orang
lain.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Proses
Perkembangan Bahasa Anak
1. Potensi Berbahasa Anak
Proses perkembangan bahasa anak tidak terlepas
dari potensi yang sudah ada pada diri anak sejak ia di lahirkan. Yang mana
potensi berbahasa individu ialah kemampuan yang masih terpendam yang dimiliki
oleh setiap orang untuk menyampaikan informasi dalam berkomunikasi.
Chomsky dan Woolflok mengatakan bahwa anak
dilahirkan ke dunia telah memiliki kapasitas berbahasa yang terus menerus
mengalami perkembangan. Karena bahasa memiliki fungsi yang sangat signifikan
bagi manusia diantaranya, yaitu : Bahasa sebagai sarana pembangkit
dan pembangun perhubungan yang mamperluas pikiran seseorang, sehingga kehidupan
mental seorang individu menjadi bagian yang tak bisa terpisahkan dari kehidupan
mental kelompok. Selain itu bahasa juga sebagai sarana untuk mempengaruhi kepribadian
seseorang.
Bahkan menurut Deyster bahasa bagi
manusia mamiliki tiga fungsi, yaitu :
1. Bahasa sebagai alat untuk menyatakan isi jiwa
seseorang.
2. Bahasa sebagai perasaan (mempengaruhi orang
lain).
3. Bahasa sebagai alat untuk menyampaikan
pendapat.
Begitu pentingnya suatu bahasa, maka sejalan
dengan kehidupan sosial yang terus berkembang pesat, bahasa pun terus
berkembang dengan pesat bahkan para ilmuwan memberikan perhatian khusus
terhadap bahasa dengan cara menjadikan studi khusus terhadap bahasa.
2.
Lingkungan
Dalam proses perkembangan bahasa, meskipun anak
sudah memiliki potensi untuk berbahasa, tetapi potensi itu tidak akan dapat
tumbuh dan berkembang apabila tidak didukung oleh lingkungan. Jelas sekali
dalam hal ini lingkungan merupakan faktor utama yang mendukung proses
perkembangan bahasa anak. Ketika seorang anak dilahirkan, kemudian dia
dibesarkan di dalam lingkungan sosial, berinteraksi dengan banyak orang maka
potensi berbahasa anak akan tumbuh dan berkembang dengan baik sejalan ddengan
bertambahnya usia anak.
Tetapi dalam kondisi tertentu, bila seorang
anak dilahirkan, kemudian di besarkan oleh binatang tertentu dalam waktu yang
cukup lama dan tidak pernah berinteraksi dengan manusia, maka dapat dipastikan
potensi berbahasa anak akan hilang. Kasus penculikan bayi oleh orang utan yang
pernah terjadi di Negara Uganda yang di beritakan oleh majalah intisati
adalah data otentik dalam hal ini. Oleh karena itu, lingkungan secara
signifikan mempengaruhi perkembangan potensi berbahasa anak.
3. Perolehan Bahasa Anak
Selain potensi berbahasa dan limgkungan yang
mempengaruhi perkembangan bahasa anak, perolehan bahasa anak pun sangat
berpengaruh dalam proses perkembangan bahasa anak. Berdasarkan tahap
pemerolehannya, Chaer dan Agustina (2004 : 8) membagi perolehan bahasa anak
menjadi dua macam, yaitu bahasa ibu (bahasa pertama) dan bahasa kedua (ketiga
dan seterusnya). Yang di maksud dengan bahasa ibu atau bahasa pertama adalah
satu system linguistik yang dipelajari pertama kali secara alamiah dari ibu
atau keluarga yang memelihara seorang anak.
Bahasa ibu lazim juga disebut bahasa pertama, karena bahasa
itulah yang pertama-tama dipelajari seorang anak. Kalau kemudian si anak
mempelajari bahasa lain, yang bukan bahasa ibunya maka bahsa lain yang
dipelajarinya itu disebut bahasa kedua. Andalkan si anak mempelajari bahasa
yang lainnya lagi, maka bahasa yang terakhir dipelajari ini disebut bahasa
ketiga. Begitu pula selanjutnya, ada kemungkinan si anak mempelajari bahasa ke
empat, kelima dan seterusnya.
Dalam perkembanagan bahasa anak, bahasa kedua
dan selanjutnya sering disebut bahasa asing. Disamping itu penamaan bahasa
asing juga bersifat politis, yaitu bahasa yang digunakan oleh bangsa lain. Maka
bahasa Malaysia, bahasa Arab, bahasa Inggris dan bahasa Cina adalah bahasa
asing bagi bangsa Indonesia. Sebuah bahasa asing, bahasa yang bukan milik suatu
bangsa (dalam arti kenegaraan) dapat menjadi bahasa kedua, kalau dipelajari
setelah menguasai bahasa ibu. Bisa juga menjadi bahasa Negara kalau bahasa itu
digunakan untuk menjalankan administrasi kenegaraan dan kegiatan kenegaraan
lainnya. Sebuah bahasa asing dapat juga menjadi bahasa pertama bagi seorang
anak kalau anak itu tercerabut dari bumi negaranya dan menggunakan bahasa itu
sejak bayi.
B. Perkembangan
Kemampuan Berbahasa Anak
Perkembangan
bahasa anak pada dasarnya terbagi kedalam dua bagian, yaitu :
1. Egocentric speech (terjadi ketika anak berbicra
kepada dirinya sendiri/monolog). Egocentric speech ini berfngsi untuk
mengembangkan kemampuan berpikir anak yang pada umumnya dilakukan oleh anak
berusia 2-3 tahun.
2. Socialized speech (terjadi ketika berlangsung
kontak antara anak dengan temannya atau dengan lingkungannya). Perkembangan
bahasa pada masa ini dibagi kedalam lima bentuk, yaitu:
a.
Adapted information (bertukar
pikiran atau gagasan dan ada tujuan bersama yang dicari).
b. Critism (penilaian anak terhadap ucapan atau
tingkah laku orang lain).
c. Command (perintah), threat (ancaman) dan
Request (permintaan)
d. Questions (petanyaan)
e. Answer/jawaban, (Yusuf 2001)
Kemampuan berbahasa anak selalu mengalami
perubahan dan perkembangan seiring dengan perkembangannya pada masa-masa
tertentu. Dilihat dari segi pembagian fase perkembangan berbahasa yang di susun
oleh Clara dan W. Stern, maka perkembangan pada masa bayi termasuk pada fase
pertama yang meliputi stadium purwaka(meraban atau mengoceh), meniru suara atau
bunyi yang di dengar walaupun tidak sempurna, dan stadium kalimat sepatah (pada
akhir masa bayi, dia mengucapakan hanya satu kata saja tetapimaksudnya adalah
satu kalimat yang mengandung permintaan). Dengan demikian perkembangan
kemampuan berbahasa anak dapat dapat dilihat dari berbagai aspek, salasatu
diantaranya yaitu faktor/aspek usia. Dengan demikian Agus Sujanto (1996:
26) membagi kemampuan perkembangan bahasa anak menjadi empat masa, yaitu:
1. Masa Pertama (Umur 1,0-1,6)
Pada masa ini, kata-kata pertama yang di
ucapakn oleh anak adalah kelanjutan dari meraban, yang didalamnya terdapat
beberapa kata yang di ucapkan juga oleh anak dari bahasa apapun di dunia ini.
2. Masa Kedua (Umur 1,6-2,0)
Pada masa ini,
anak dengan kemampuannya, anak semakin banyak melihat sesuatu dan ingin
mengetahui namanya. Oleh krena itu, ia selalu menanyakan nama di antara
benda-benda yang kebetulan di temuinya.
3. Masa Ketiga (Umur 2,0-2,6)
Pada masa ini,
anak semakin tampak sempurna dalam menyusun kata-kata. Ia sudah menggunakan
awalan dan akhiran, walaupun belum sempurna seperti yang di katakana orang
dewasa.
4. Masa Keempat (Umur 2,6 - Seterusnya)
Pada masa ini,
rasa ingin tahu anak terhadap segala sesuatu semakin bertambah, sehingga pada
masa ini anak sering bertanya. Kreativitas bertanya anak ini adalah suatu hal
yang wajar dan harus kita tanggapi dengan penuh kearifan dan tidak boleh
bersifat sinis, apalagi memarahinya. Dan semua itu tidak lain demi perkembangan
pikiran dan memperkaya perbendaharaan bahasa anak.
Berdasarkan pandangan linguistic ada juga ahli
psikologi yang mengklasifikasikan perkembangan bahasa anak sebagai berikut:
1. Permulaan Bicara
Suara pertama
yang dikeluarkan oleh anak adalah jerit tangis pada waktu di lahirkan. Tangis
bukan suatu gejala yang berdiri sendiri, melainkan suatu tingkah laku refleks
terhadap sesuatu karena di satu pihak menunjukan keadaan tidak nyaman. Menurut
Van Ginneken, suara-suara yang dikeluarkan oleh anak adalah huruf-huruf vocal,
dan tangis menurutnya terletak pada dasar vokalisasi.
2. Kalimat Satu Kata dan Kalimat Dua Kata
Satu kata yang
di ucapkan oleh anak harus dianggap sebagai satu kalimat penuh. Hal ini berarti
anak dalam kalimat satu atau dua kata sudah mampu untuk menyampaikan maksudnya
meskipun dengan alat sintaksis yang masih terbatas.
3. Kalimat Tiga Kata
Dari kalimat
dua kata berkembanglah lambat laun kalimat tiga kata yang dalam arti structural
mula-mula masih mirip dengan kalimat dua kata.
Perubahan ini terjadi kurang lebih antara bulan
ke-24 dan bulan ke-30. Meskipun mula-mula masih mirip dengan bentuk kalimat dua
kata secara structural, namun segera terjadi diferensiasi dalam kelompok
kata-kata yang di masukkan dalam klasifikasi baru. Dengan kata lain anak
mengatur kembali kata-kata dalam bahasanya.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah dijelaskan
sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa proses perkembanagan bahasa anak dapat
berlangsung dengan baik, apabila di dukung oleh beberapa faktor diataranya
perolehan bahasa anak, keluarga, dan tidak kalah pentingnya yaitu faktor usia
(umur anak). Selain itu ada juga faktor-faktor lain yang mempengaruhi
perkembangan bahasa anak,diantaranya yaitu:
1. Penguasaan bahasa anak berkembang menurut hokum
alami (karena bakat, kodrat, dan ritme perkembangan yang alami) dan sangat
dipengaruhi oleh lingkungan;
2. Kemajuan penguasaan bahasa oleh anak
berlangsung sedikit demi sedikit dan perlahan-lahan sekali yang disebabkan oleh
bunyi huruf mati yang sulit dilafalkan dengan tepat dan baik;
3. Perkembangan bahasa pada anak didorong oleh
hasrat ingin berkomunikasi dengan orang lain dan untuk memahami dunia sekitar,
anak bercakap-cakap sambil melatih fungsi bicaranya;
4. Besar kecilnya perbendaharaan bahasa anak
sangat bergantung pada lingkungan sekitar, budaya, keluarga, dan sekolah.
B. Saran
Dalam penyusunan makalah ini penulis
menyarankan kepada segenap komponen masyarakat, terutama bagi para orang tua
yang memiliki anak agar memberikan pengajaran bahasa yang baik terhadap anak
melalui lingkungan, budaya, agama, nilai dan norma yang baik dalam masyarakat.
DAFTAR
PUSTAKA
Djamarah,
Syaeful Bahri. 2000. Psikologi Belajar Edisi II. Jakarta: Rineka Cipta
Dalyono,
M. 1997. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Abror, Abdu.
Rachman. 1993. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya
https://draft.blogger.com/blogger.g?blogID=1211392708349637882#editor/src=sidebar