Minggu, 19 Juni 2016

  1.       Robin Williams dalam film legendaris Mrs Doubtfire sama sekali tak menyiratkan kesedihan. Mata jenakanya terkenang sepanjang masa.Tak sedikit yang tahu keakraban Williams dengan alkohol dan obat-obatan. Namun, sekali lagi, itu tidak membuatnya berkubang dalam suasana muram. Tahun demi tahun, film Williams terus bermunculan.Saat 11 Agustus lalu ia ditemukan meninggal di California, seluruh pemerhati dunia hiburan terkejut. Apalagi ia diduga meninggal bunuh diri. Tubuhnya tergantung dan ada pisau di dekatnya.Penyebab bunuh dirinya langsung menyempit pada satu kata: depresi. Dugaan itu didasari ungkapan duka cita dari perwakilan Williams. “Dia berjuang melawan depresi yang berat akhir-akhir ini,” katanya.Fakta itu kemudian menguak riwayat lama Williams sebagai pecandu obat dan alkohol. Padahal, ia sudah berobat. Dalam wawancara tahun 2010 ia juga mengungkapkan hidupnya sudah lebih bahagia.Beberapa hari setelah kematiannya, muncul fakta baru. Istri Williams, Susan Schneider mengungkap, saat meninggal suaminya sebenarnya juga tengah berjuang melawan tahap awal penyakit parkinson.Menurut Dr Manny Alvarez, editor kesehatan untuk Fox News, parkinson bisa menjadi beban berat bagi psikologi penderitanya. Akan ada perubahan kimia dalam otak, yang bisa menyebabkan depresi.Jika mengalami parkinson dan depresi, kondisinya akan jauh lebih mengkhawatirkan. Konsentrasi menurun drastis, sering merasa cemas, apalagi saat sendirian. Itu bisa mengarah ke bunuh diri.


ANALISIS KASUS :
  
   Dalam Chaplin (2002) depresi didefinisikan pada dua keadaan, yaitu pada orang normal dan pada kasus patologis. Pada orang normal, depresi merupakan keadaan kemurungan (kesedihan, patah semangat) yang ditandai dengan perasaan tidak puas, menurunnya kegiatan, dan pesimis dalam menghadapi masa yang akan datang. Pada kasus patologis, depresi merupakan ketidakmampuan ekstrem untuk bereaksi terhadap perangsang, disertai menurunnya nilai diri, delusi ketidakpastian, tidak mampu dan putus asa. Perbedaan depresi normal dengan depresi klinis terletak pada tingkatannya, namun keduanya memiliki jenis simtom yang sama. Tetapi depresi unipolar atau mayor depresi mempunyai simtom yang lebih banyak, lebih berat (severely), lebih sering, dan terjadi dalam waktu yang lebih lama. Namun batas antara gangguan depresif normal (‘normal’ dengan gangguan depresif klinis (clinically significant depressive disorder) masih kabur (Rosenhan & Seligman, 1989).
 
    Radloff (1977) telah mengembangkan sebuah skala CES-D untuk mendeteksi simtom-simtom depresi pada populasi umum. Komponen utama simtomatologi depresif yang digunakan dalam skala CES-D diidentifikasi dari literatur klinis dan studi faktor analisis. Melalui skala CES-D individu dikatakan mengalami simtom-simtom depresi melalui keempat faktor, yaitu: Depressed effect/negative affect merupakan perasaan-perasaan, emosi, atau suasana hati yang dirasakan negatif seperti perasaan sedih, tertekan, kesepian, dan menangis, Somatic symptoms merupakan gejala psikologis yang dirasakan berkaitan dengan keadaan tubuh seperti merasa terganggu, berkurang atau bertambahnya nafsu makan, membutuhkan usaha lebih besar dalam melakukan sesuatu, kesulitan tidur, dan sulit memulai sesuatu, Positive affect merupakan perasaan, emosi, suasana hati yang dirasakan positif bagi individu dan memiliki harapan yang merupakan kebalikan dari perasaan negatif, dan Interpersonal relation merupakan perasan negatif yang dirasakan individu berkaitan dengan perilaku orang lain seperti tidak bersahabat dan merasa tidak disukai.
  
   Berdasarkan berbagai definisi dari faktor-faktor yang disebutkan di atas, maka dapat disimpulkan pengertian depresi adalah suatu keadaan dimana individu mengalami simtom-simtom perasaan sedih, tertekan, kesepian, berkurang nafsu makan, membutuhkan usaha lebih besar dalam melakukan sesuatu, kesulitan tidur, kesulitan untuk memulai mengerjakan sesuatu, merasa tidak bersahabat, dan merasa tidak disukai orang lain.

2.  Keshatan mental yakni terhindarnya seseorang dari gejala-gejala gangguan dan penyakit jiwa, dapat menyesuaikan diri, dapat memanfaatkan segala potensi dan bakat yang ada semaksimal mungkin dan membawa kepada kebahagiaan bersama serta mencapai keharmonisan jiwa dalam hidup. Kesehatan jiwa di Indonesia selama ini relatif terabaikan, padahal penurunan produktivitas akibat gangguan kesehatan jiwa terbukti berdampak nyata pada perekonomian. Di Indonesia, jumlah penderita masalah kesehatan  jiwa cukup tinggi dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Hampir seluruh bagian dari wilayah Indonesia dan selama beberapa dekade, populasi telah mengalami masa sulit karena konflik, kemiskinan ataupun bencana alam. Sejumlah besar masyarakat Indonesia mengalami penderitaan mental yang bervariasi mulai dari tekanan psikologis ringan hingga gangguan jiwa.meskipun gangguan jiwa tidak menyebabkan kematian secara langsung  namun akan menyebabkan penderinya menjadi tidak produktif dan menimbulkan beban bagi keluarga penderita dan lingkungan masyarakat sekitarnya. Sampai saat ini perhatian pemerintah terhadap kesehatan jiwa di tanah air boleh dikatakan kurang memuaskan



NAMA : FIRMANSYAH
KELAS : 2PA13
NPM     : 14514296